PROPOSAL

REHABILITASI MASJID “BAITUR RAHMAN”

DUSUN PLOSO, DESA NAMPU, KECAMATAN KARANGRAYUNG

KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hakikat pembangunan adalah untuk membangun manusia seutuhnya, yaitu adanya keseimbangan antara pembangunan aspek lahiriah dan batiniah, antara jasmaniah dan rohaniah, antara aspek fisik dan mental. Kedua aspek pembangunan tersebut perlu dilaksanakan secara seimbang, selaras, terpadu, utuh, dan integral.

Seiring dengan dinamika masyarakat yang terus bergerak menuju arus globalisasi, termasuk masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, pembangunan aspek batiniah, rohaniah, atau mental, menjadi semakin penting dan urgen untuk dilaksanakan secara serius, terencana, dan sistematis. Sarana dan prasarana ibadah sebagai tempat strategis untuk mengembangkan syiar Islam semakin penting untuk diwujudkan. Hal ini dimaksudkan agar segenap warga masyarakat dapat menjalankan aktivitas peribadatan dengan tenang dan khusyu’. Salah satu sarana ibadah yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas peribadatan dengan tenang dan khusyu’ bagi warga masyarakat adalah sebuah masjid yang permanen dan representatif.

Demikian juga halnya bagi warga masyarakat yang tinggal di Dusun Ploso, Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, keberadaan sebuah masjid memiliki arti yang sangat penting dan strategis dengan pertimbangan sebagai berikut:

1. Masjid sebagai tempat dan sarana beribadah bagi umat Islam yang sudah diakui keberadaannya sejak agama Islam berkembang;

2. Masjid sebagai tempat untuk mengembangkan pendidikan aspek rohaniah bagi warga masyarakat yang beragama Islam;

3. Masjid sebagai tempat dan sarana bermusyawarah untuk menentukan kebijakan yang sangat penting bagi pengembangan syiar Islam dan kepentingan sosial yang lain.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka dalam rangka mewujudkan lingkungan masyarakat yang agamis atau religius, seluruh warga masyarakat Dusun Ploso, Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dengan dukungan para Kyai dan Ulama’ serta segenap elemen masyarakat yang lain, bermaksud untuk melakukan rehabilitasi masjid “Baitur Rahman” yang saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan agar menjadi sebuah tempat dan sarana ibadah yang permanen dan representatif.

B. Maksud dan Tujuan

1. Maksud

Maksud direhabilitasinya masjid “Baitur Rahman” adalah untuk mewujudkan sarana ibadah bagi umat Islam yang permanen dan representatif, sehingga warga masyarakat dapat menjalankan aktivitas peribadatan dengan tenang dan khusyu’.

2. Tujuan

Adapun tujuannya adalah untuk mewujudkan lingkungan masyarakat yang agamis atau religius dengan tingkat keimanan dan ketaqwaan yang baik, sehingga dapat ikut beriprah mengembangkan syariat dan syiar Islam secara nyata di tengah-tengah tantangan modernisasi dan globalisasi.

C. Lokasi Masjid

Secara geografis, lokasi masjid “Baitur Rahman” terletak di dusun terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota besar, yaitu di Dusun Ploso, Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah (± 35 KM ke arah selatan dari ibukota Kabupaten Grobogan). Untuk menjangkau lokasi masjid tersebut harus melalui jalanan berbatu dengan kondisi jalan yang sangat jelek dan memprihatinkan.

D. Sejarah Berdirinya Masjid “Baitur Rahman”

Berdasarkan penuturan lisan dari mulut ke mulut, masjid “Baitur Rahman” Dusun Ploso, Desa Nampu, Kec. Karangrayung, Kab. Grobogan, Jawa Tengah, didirikan pada tahun 1955 oleh seorang ulama setempat bernama Kyai Mat Sadi. Beliau adalah salah seorang murid Kyai Muslih, Pengasuh Pondok Pesantren “Futuhiyyah” Mranggen, Demak, pada saat itu. Beliaulah yang ikut berkiprah berjuang dan menyebarkan ajaran Islam di Dusun Ploso dan sekitarnya. Banyak tantangan dan hambatan yang Beliau hadapi untuk menyebarkan agama Islam di tengah-tengah kuatnya masyarakat yang masih percaya pada kekuatan animisme dan dinamisme. Sebagian besar masyarakat memang memeluk Islam, tetapi dalam praktiknya, mereka masih suka memuja benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib dan keramat. Mereka tidak pernah menjalankan shalat lima waktu.

Dalam menghadapi kondisi semacam itu, Kyai Mat Sadi dengan dibantu oleh beberapa penduduk yang seiman berinisiatif mendirikan sebuah tempat ibadah, berupa sebuah surau atau langgar kecil berukuran 6 x 9 M berbentuk panggung pada tahun 1955. Setelah surau berdiri, penduduk setempat banyak yang mulai shalat berjamaah dan belajar al-Quran. Lama-kelamaan, surau tersebut mulai banyak jamaahnya.

Pada tahun 1965, ketika G 30 S/PKI meletus, surau tersebut dijadikan sebagai tempat mengungsi umat Islam dari ancaman orang-orang PKI yang terus memburu dan memusuhi orang-orang Islam. Orang-orang PKI tidak berani mendekati surau berkat kharisma Kyai Mat Sadi yang begitu disegani dan ditakuti oleh orang-orang PKI. Setelah PKI bubar, surau semakin ramai dan tidak sanggup lagi menampung jumlah jamaah. Atas inisiatif Kyai Mat Sadi dan dukungan penduduk setempat, mereka sepakat untuk memugar dan mengembangkan surau menjadi sebuah masjid berbentuk panggung tanpa pondasi dengan menggunakan umpak dari balok kayu jati. Dengan modal seadanya, masjid tersebut selesai dipugar pada tahun 1967.

Setelah masjid berdiri, aktivitas warga masyarakat untuk menjalankan ibadah mulai meningkat. Masjid tidak hanya digunakan untuk menjalankan shalat, tetapi juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan syiar Islam, seperti dakwah/pengajian, madrasah, dan berbagai pertemuan para tokoh masyarakat untuk membahas berbagai masalah sosial.

Islam pun berkembang pesat di Dusun Ploso dan sekitarnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi masjid “Baitur Rahman” mulai keropos dimakan usia. Sebagian besar umpaknya sudah tampak lapuk akibat sering terlanda banjir. Umpak yang sudah tidak bisa digunakan diganti dengan kayu seadanya. Kondisi semacam itu diperparah dengan terjadinya peristiwa angin ribut pada hari Selasa, 25 Oktober 2005 pukul 16.55 WIB. Kejadian angin ribut itu membuat masjid “Baitur Rahman” mengalami rusak berat. Sebagian besar genting hancur, posisi masjid pun miring ke arah barat karena tidak adanya pondasi. Namun, berkat kerja sama semua jamaah dan warga masyarakat sekitar, masjid tersebut bisa dibenahi dan bisa digunakan untuk melakukan aktivitas peribadatan.

E. Kondisi Masjid “Baitur Rahman”

Saat ini kondisi masjid “Baitur Rahman” benar-benar sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama jika digunakan pada saat menjalankan shalat Jumat, shalat Id, atau kegiatan dakwah. Sebagian besar umpaknya sudah tak sanggup lagi menopang beban yang ada di atasnya. Jika tidak diwaspadai, masjid tersebut bisa roboh jika terlalu banyak beban jamaah yang ada di dalam masjid. (Foto terlampir).

Kondisi tersebut akan makin memprihatinkan jika musim penghujan tiba. Sering kali Dusun Ploso (termasuk masjid “Baitur Rahman) dilanda banjir akibat luapan bah dari sungai yang berbatasan dengan hutan yang sudah gundul. Jika kondisi tersebut tidak secepatnya tertangani, keberadaan masjid yang begitu bersejarah itu hanya akan tinggal kenangan. Oleh karena itu, perlu ada upaya serius agar keberadaan masjid “Baitur Rahman” tetap eksis sebagai tempat dan sarana untuk mengembangkan syariat dan syiar Islam bagi masyarakat Ploso dan sekitarnya. Lebih-lebih masjid “Baitur Rahman” merupakan satu-satunya masjid yang digunakan oleh warga masyarakat untuk menjalankan shalat Jumat, shalat Id, atau kegiatan-kegiatan peribadatan yang lain, sehingga pemugaran atau rehabilitasi masjid menjadi hal yang penting dan urgen untuk secepatnya dilakukan.

F. Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat

Berdasarkan data yang ada di Kantor Desa Nampu, Kec. Karangrayung, Kab. Grobogan, Jawa Tengah, jumlah penduduk Dusun Ploso ± Mayoritas penduduk Dusun Ploso, Desa Nampu, Kec. Karangrayung, Kab. Grobogan, Jawa Tengah, bekerja sebagai petani dengan kondisi lahan yang tandus. Akibat kondisi lingkungan hutan yang gundul, masyarakat mengalami masa kekeringan pada musim kemarau dan sering dilanda banjir pada musim penghujan. Efek lebih lanjut dari kondisi lingkungan hidup semacam itu adalah minimnya tingkat penghasilan para penduduk. Mereka hanya bisa panen padi pada saat musim penghujan dan menanam palawija pada saat musim kemarau dengan hasil panen yang tidak menentu. Dana pemeliharaan masjid hanya diperoleh dari amal jariyah para jamaah pada saat shalat Jumat atau shalat Id dengan jumlah nominal yang amat terbatas. Selama ini, masjid “Baitur Rahman” belum pernah mendapat subsidi rehabilitasi dari instansi atau lembaga mana pun. Donatur tetap atau tidak tetap pun belum ada. Kondisi itu diperparah dengan minimnya perhatian pihak pemerintah daerah setempat terhadap keberadaan tempat dan sarana ibadah.

Akibat minimnya penghasilan, para penduduk tidak mampu memberikan dana yang cukup untuk berswadaya melakukan rehabilitasi masjid “Baitur Rahman”. Mereka hanya bisa memberikan amal jariyah seadanya setiap hari Jumat atau menyumbangkan tenaga dengan cara bergotong-royong untuk melakukan tambal-sulam terhadap bagian-bagian masjid yang perlu diperbaiki. Tidak heran apabila kondisi masjid “Baitur Rahman” sejak dipugar pada tahun 1967 hingga sekarang (± 39 tahun) tidak pernah mengalami perubahan, bahkan makin lama makin memprihatinkan. Padahal, sering dengan meningkatnya jumlah penduduk, jumlah jamaah juga makin bertambah. Hal itu menunjukkan bahwa syiar Islam di Dusun Ploso berlangsung cukup kondusif. Sayang sekali, hal itu kurang didukung oleh tempat dan sarana ibadah yang permanen dan representatif.

II. RENCANA PELAKSANAAN

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Takmir Masjid “Baitur Rahman” Dusun Ploso, Desa Nampu, Kec. Karangrayung, Kab. Grobogan, Jawa Tengah, berinisiatif untuk melakukan rehabilitasi atau pemugaran agar keberadaan masjid tersebut tetap eksis dalam upaya ikut berkiprah mengembangkan syariat dan syiar Islam.

Untuk merealisasikan hal tersebut telah dibentuk kepanitiaan (susunan panitia terlampir) yang telah diberi amanat oleh seluruh jamaah dan warga masyarakat untuk melaksanakan tahap-tahap rehabilitasi atau pemugaran masjid, mulai tahap perencanaan hingga tahap finishing.

Sebagai tahap awal, panitia telah melaksanakan tugas, yaitu mengumpulkan dana amal jariyah yang berasal dari para jamaah dan warga masyarakat dan telah terkumpul dana sebesar Rp7.575.700,00 (tujuh juta lima ratus tujuh puluh lima ribu tujuh ratus rupiah). Jumlah dana tersebut masih belum cukup untuk melakukan pemugaran atau rehabilitasi masjid yang diperkirakan akan menghabiskan dana ± Rp55.631.744,65 (lima puluh lima juta enam ratus tiga puluh satu ribu tujuh ratus empat puluh empat koma enam puluh lima rupiah). Dengan demikian, kami masih mengalami kekurangan dana sebesar Rp48.056.044,65 (empat puluh delapan juta lima puluh enam ribu empat puluh empat koma enam puluh lima rupiah). (Rencana Anggaran Belanja terlampir).

Kegiatan pemugaran atau rehabilitasi masjid “Baitur Rahman” direncanakan akan dimulai dengan memanfaatkan dana yang sudah dimiliki. Kekurangan dana untuk menyelesaikan kegiatan rehab tersebut sangat kami harapkan mendapatkan bantuan atau subsidi dari para dermawan atau instansi yang memiliki kepedulian dan perhatian untuk mewujudkan sarana ibadah yang permanen dan representatif sebagai upaya untuk mengembangkan syariat dan syiar Islam di seluruh wilayah nusantara (termasuk di daerah pedesaan). Adapun prioritas pemugaran yang kami rencanakan adalah pondasi keliling dengan ukuran 20 x 9 M. Kemudian, kami juga merencanakan untuk melakukan tembok keliling setengah dinding dan memugar atap yang sudah rusak berat. Dengan kondisi pemugaran semacam itu, masjid “Baitur Rahman” diharapkan menjadi lebih kuat dan kokoh serta tidak mudah roboh akibat dilanda banjir. (Gambar rencana konstruksi masjid terlampir).

Berkaitan dengan hal tersebut, maka dalam upaya mengembangkan syariat dan syiar Islam serta memenuhi anjuran Rasulullah SAW akan pentingnya sarana dan parasarana ibadah, kami mengetuk nurani Bapak/Ibu serta segenap kaum muslimin/muslimat di mana saja berada untuk ikut memberikan bantuan secara sukarela sehingga dana yang kami butuhkan dapat tercukupi. Dengan segala kerendahan hati, kami sadar bahwa tanpa peran serta dan partisipasi Bapak/Ibu, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Insya Allah kami siap untuk menjalankan amanat dari warga untuk melakukan pemugaran atau rehabilitasi masjid sampai tahap finishing sehingga dapat terwujud sebuah masjid yang permanen dan representatif dengan memanfaatkan dana kontribusi dan subsidi dari Bapak/Ibu.

III. PENUTUP

Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran religius warga masyarakat desa untuk menjalankan aktivitas peribadatan sesuai dengan syariat Islam, upaya untuk mewujudkan sarana dan prasarana peribadatan yang permanen dan representatif perlu mendapatkan dukungan, baik spiritual maupun materiil, dari berbagai pihak. Selain itu, ada keinginan dari para jamaah dan warga masyarakat untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya, yaitu bukan semata-mata sebagai tempat menjalankan shalat, melainkan juga sebagai tempat untuk mengembangkan syiar Islam dan kegiatan sosial lainnya.

Demikian juga halnya yang terjadi di lingkungan masyarakat Dusun Ploso, Desa Nampu, Kec. Karangrayung, Kab. Grobogan, Jawa Tengah, keberadaan sebuah masjid yang permanen dan representatif benar-benar sangat didambakan. Namun, untuk mewujudkan keinginan dan niat mulia tersebut masih ada masalah yang cukup serius, yaitu adanya kekurangan dana rehabilitasi masjid sebesar Rp48.056.044,65 (empat puluh delapan juta lima puluh enam ribu empat puluh empat koma enam puluh lima rupiah).

Masalah tersebut akan dapat teratasi jika Bapak/Ibu berkenan untuk memberikan infak ataupun subsidi untuk kepentingan pemugaran masjid tersebut. Insya Allah berkat dukungan Bapak/Ibu, rencana pemugaran masjid tersebut benar-benar dapat terwujud dan terealisasi, sehingga syiar Islam di lingkungan masyarakat Dusun Ploso, Desa Nampu, Kec. Karangrayung, Kab. Grobogan, Jawa Tengah, makin kondusif dalam upaya mewujudkan masyarakat religius yang beriman dan bertaqwa seperti dambaan segenap warga bangsa secara keseluruhan.

Kami segenap warga masyarakat Dusun Ploso, Desa Nampu, Kec. Karangrayung, Kab. Grobogan, Jawa Tengah, mengucapkan terima kasih atau semua sumbangsih dan kontribusi yang Bapak/Ibu berikan, teriring doa semoga amal dan jasa baik Bapak/Ibu akan tercatat sebagai amal jariyah yang tidak terputus nilai pahalanya serta menjadi sarana untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, amiin.

Grobogan, 20 Oktober 2006

Ketua, Sekretaris,

MANSYUR SUBKHAN


SUSUNAN PANITIA

REHABILITASI MASJID “BAITUR RAHMAN”

DUSUN PLOSO, DESA NAMPU, KECAMATAN KARANGRAYUNG

KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH

Pelindung : Kepala Desa Nampu Kecamatan Karangrayung Kabupaten Grobogan

Penasihat : 1. Ketua RW IV Desa Nampu Kecamatan Karangrayung

2. Rochani Muslim

3. Saparijo

Ketua : MANSYUR

Sekretaris : 1. Subkhan

2. Sujimin

Bendahara : 1. Marmin

2. Kaswadi

Seksi-seksi :

Teknis : 1. Makiran (Koordinator)

2. Jahyo

3. Wasidi

4. Yasir

Usaha : 1. Musmin (Koordinator)

2. Sukemi

3. Ragimin

4. Noto

5. Jasri

6. Mukmin

7. Wagimin

8. Tasti

9. Rebo

10. Warno

Pembantu Umum : 1. Parnyo

2. Darto

3. Kasno

4. Parji

5. Kasmin

Grobogan, 20 Oktober 2006

Ketua, Sekretaris,

MANSYUR SUBKHAN


PROFIL SINGKAT MASJID “BAITUR RAHMAN”

DAN SUSUNAN PENGURUS TAKMIR

A. IDENTITAS

1. Nama Masjid : Baitur Rohman

2. Alamat Masjid :

a. Dusun : Ploso

b. Desa : Nampu

c. Kecamatan : Karangrayung

d. Kabupaten : Grobogan

e. Provinsi : Jawa Tengah

B. SEJARAH DAN KONDISI MASJID

1. Tahun Berdiri : 1955 (berbentuk surau/langgar) dan dipugar menjadi masjid pada

tahun 1967

2. Pemrakarsa : Kyai Mat Sadi dibantu dengan swadaya murni warga masyarakat

3. Ukuran : 20 x 9 M2

4. Kondisi : Rusak berat

5. Keterangan : Belum pernah mendapatkan subsidi rehabilitasi

C. RUANG MASJID :

1. Jumlah ruang : 2 ruang (ruang serambi dan ruang utama)

2. Kondisi : Rusak

3. Keterangan : Belum ada plafon dan langit-langit sejak berdiri

D. LOKASI MASJID :

Secara geografis, lokasi masjid “Baitur Rahman” terletak di dusun terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota besar, yaitu di Dusun Ploso, Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah (± 35 KM ke arah selatan dari ibukota Kabupaten Grobogan). Untuk menjangkau lokasi masjid tersebut harus melalui jalanan berbatu dengan kondisi jalan yang sangat jelek dan memprihatinkan.

E. PENGURUS TAKMIR

1. Ketua : Zainal Mustakim

2. Wakil Ketua : Kaharudin

3. Sekretaris : Subkhan

4. Bendahara : Marmin

5. Sie Bangunan : a. Makiran

b. Wagimin


PEMANFAATAN TENAGA KERJA

REHABILITASI MASJID “BAITUR RAHMAN”

Nama Masjid : Baitur Rahman

Dusun : Ploso

Desa : Nampu

Kecamatan : Karangrayung

Kabupaten : Grobogan

Provinsi : Jawa Tengah

No.

Jenis Pekerja

Jumlah Hari Orang Kerja (HOK) Per Minggu

Minggu

1

2

3

4

5

6

7

8

1.

Mandor

2.

Kepala Tukang

3.

Tukang

5

5

5

5

5

5

5

5

4.

Pekerja

8

8

8

8

8

8

8

8

5.

Warga Masyarakat

Grobogan, 20 Oktober 2006

Ketua, Sekretaris,

MANSYUR SUBKHAN


JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

REHABILITASI MASJID “BAITUR RAHMAN”

Nama Masjid : Baitur Rahman

Dusun : Ploso

Desa : Nampu

Kecamatan : Karangrayung

Kabupaten : Grobogan

Provinsi : Jawa Tengah

No.

Jenis Pekerjaan

Minggu

1

2

3

4

5

6

7

8

1.

Persiapan

2.

Dinding

3.

Lantai

4.

Rangka/Atap

5.

Plafon

6.

Kusen dan Partisi

7.

Pintu dan Jendela

8.

Peninggian Pondasi

9.

Pengecatan

                                                                Grobogan, 20 Oktober 2006

Ketua,                                      Sekretaris,

MANSYUR                             SUBKHAN

 

 

RENCANA ANGGARAN BELANJA (RAB)

REBAHIBILITASI MASJID “BAITURRAHMAN”

DUSUN PLOSO, DESAN NAMPU, KEC. KARANGRAYUNG, KAB. GROBOGAN

No.

Uraian Pekerjaan

 Volume

Analis

 Harga Satuan

 Biaya

 Jumlah

 Upah (Rp)  Bahan (Rp)

 

I. PERSIAPAN

 

 

 

 

   

 

1

Alat-alat

 -

Tat

 -

 -

           150.000,00

2

Pasang bauwplang

 -

Tat

 -

 -

           100.000,00

3

Pek. Bongkaran

 -

Tat

 -

 -

           541.000,00

4

Pengukuran

 -

Tat

 -

 -

           100.000,00

5

Dokumentasi

 -

Tat

 -

 -

           100.000,00

6

Laporan/administrasi

 -

Tat

 -

 -

           150.000,00

Jumlah

 

     1.141.000,00      1.141.000,00
II. PEK. TANAH

1

Galian tanah biasa   42,10  M3 A.1          17.187,50            723.593,75

2

Pengurugan kembali        50  %            361.761,87

3

Pengurugan tanah padas   51,20  M3 A.22            9.237,50            472.960,00
         60.000,00         3.072.000,00

 

     1.558.315,62

     3.072.000,00      4.630.315,62
III. PEK. PASANGAN

1

Anstampengan batu kosong   11,30  M3 G.2.a          35.436,62            400.433,75
         74.400,00            840.720,00

2

Pondasi batu belah putih     9,92  M2 G.31.9        132.150,00         1.310.928,00
       184.545,75         1.830.693,84

3

Sloof beton bertulang     4,62  M3 G.47.b        181.000,00            836.220,00
    1.666.582,00         7.699.608,84

 

     2.547.581,75

  10.371.022,68   12.918.604,43
IV. PEK. KAYU

1

Ramuan kap kayu   0,552  M3 F.22     1.272.375,00            702.351,00
    4.416.800,00         2.438.073,60

2

Tambal-sulam usuk/reng        96  M2 F.16            6.287,50            603.600,00
         55.800,00         5.356.800,00

3

Tambal-sulam dinding/papan   70,50  M2 F.21.a          38.015,00         2.680.057,50
       122.820,00         8.658.810,00

4

Lisplank        18  M2 F.21.a          38.015,00            684.270,00
         94.740,00         1.705.320,00

 

     4.670.278,50

  18.159.003,60   22.829.282,10
V. PEK. ATAP/LANTAI

1

Genteng pres      324  M2 H.2            8.650,00         2.802.600,00
         17.250,00         5.589.000,00

2

Kerpus        38  M H.6          17.300,00            657.400,00
         22.863,75            868.822,50

3

Lantai        96  M2 Spl.III          21.625,00         2.076.000,00
         22.070,00         2.118.720,00

Jumlah

     5.536.000,00      8.576.542,50   14.112.542,50

Jumlah Total

  14.312.175,87   41.319.568,78   55.631.744,65
Jumlah total dana yang digunakan untuk merehabilitasi Masjid “Baitur Rahman” sebesar  Rp   55.631.744,65

Terbilang: Lima puluh lima juta enam ratus tiga puluh satu ribu tujuh ratus empat puluh empat koma enam puluh lima rupiah

 Grobogan, 20 Oktober 2006
 Ketua Panitia,  Bendahara,
 MANSYUR  MARMIN

RANCANGAN MASJID

rancangan-masjid.JPG

 

 

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.